Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Tuntunan Memberi Nama Baik Bayi

Tuntunan Memberi Nama Baik Bayi

Memberi nama baik kepada bayi dalam islam telah ada dalam tuntuna tersendiri. Karena memang Islam dalam segala aspek kehidupan dunia akherat mempunyai pedoman yang pasti yaitu Al-Qur'an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya nama merupakan identitas seseorang, bukti atas dirinya, serta merupakan kebutuhan yang sangat urgen dalam memahami dirinya di saat bersamanya, atau saat bersikap kepadanya. Bagi seorang anak, nama merupakan sebuah perhiasan dan syi’ar yang dengannya ia akan diseru di dunia maupun di akhirat. Nama merupakan bentuk pujian terhadap agama dan pertanda bahwa ia termasuk pemeluknya. Sehingga memang kita selaku umat islam perlu mengetahui akan tuntunan Islam memberi nama baik pada bayi anak kita semuanya.

Anjuran memberi nama anak ini juga telah terdapat dalam nash yaitu riwayat hadist Tirmidzi yitu :"dari Amr bin Syuaib, dari bapanya, dari datuknya, bahwa Nabi saw. menyuruh memberii nama bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya dan memotong tali pusatnya serta mengadakan akikah.

Untuk itu Islam selalu menginginkan kemudahan, meskipun menyangkut pemberian nama anak, dan Islam tidak menyukai kesulitan dan kekerasan meskipun juga menyangkut pemberian nama. Karena Rasulullah juga memberikan tuntunan Islam dalam memberi nama baik untuk anak. Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui larangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai nama Harb (perang).

Tuntunan Islam Memberi Nama Baik Bayi Anak

Untuk itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Nama yang paling disukai adalah 'Abdullah dan 'Abdur Rahman, dan nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam, sedang nama yang paling buruk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit)."( HR. Abu Dawud ) Dan tuntunan nama yang paling baik dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan disukai Allah adalah nama Abdullah dan 'Abdur Rahman berdasarkan atas sebuah hadist yang artinya sebagai berikut :"Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah 'Abdullah dan 'Abdur Rahman."( HR. Muslim ).

Kita selaku umat Islam juga dianjurkan untuk memberikan ucapan selamat atas kelahiran anak kepada keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan tetangga-tetangga kita pula. Anjuran memberikan ucapan selamat atas kelahiran anak ini juga telah dikatakan oleh Sahabat-sahabat Imam Nawawi berkata: Dianjurkan memberi ucap selamat sesuai dengan yang diriwayatkan dan Husein bin Ali ra bahwa ia mengajari orang memberi ucap selamat. Ia berkata: Ucapkanlah: Semoga Allah memberi berkat kepadamu dan anakmu. Semoga engkau bersyukur kepada Pemberinya (Allah SWT.) Semoga anak itu mencapai usia dewasa dan berbakti kepadamu.

Dianjurkan menjawab orang yang memberi ucap selamat dengan ucapan: Semoga Allah memberi berkat kepadamu. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Semoga Allah memberikan kepadamu yang seperti itu. Atau, semoga Allah memperbanyak pahalamu.

Hukum Pemberian Nama.
Allah subhanahu wa ta’ala menuntunkan kepada keturunan Adam untuk memberikan nama pada anak, sebagaimana Allah telah memberi nama “Yahya” kepada putra Nabi Zakariyya ‘alaihis salam yang akan dilahirkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya : "Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya." (QS Maryam: 7).

Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma’ mengatakan bahwa para ulama bersepakat atas wajibnya memberikan nama, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Anak yang tidak memiliki nama tidak akan dikenal (majhul) dan tersamarkan dengan yang lainnya, tidak bisa dibedakan, karena nama berfungsi untuk menentukan, membedakan, dan mengenali si anak.

Manfaat Hikmah pemberian nama kepada anak yaitu diantaranya :
  1. Nama adalah hal pertama yang diperuntukkan bagi anak ketika ia keluar dari kegelapan rahim.
  2. Nama adalah sifat pertama yang membedakannya dengan sesama jenisnya.
  3. Nama adalah hal pertama yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya, yang memiliki hubungan sifat pewarisan dan keturunan.
  4. Nama adalah bekal bagi seorang anak untuk masuk ke tengah-tengah masyarakat.
Berikut adalah tips panduan dalam memberi nama anak secara Islami yaitu :
  1. Hendaknya anak diberi nama dengan nama-nama yang baik yang menunjukkan keislamannya.
  2. Tidak memberi nama dengan dengan nama-nama orang kafir contohnya : Andrea, Jacklin, Yuli, Diana, Susan, Paulia, Victoria, Gloria, Lara, Linda, Lisnda, Maya, Manoliya, Gandhi.
  3. Tidak memberi nama anak dengan sesuatu yang tidak memiliki makna contohnya : Zuzu, Vivi, Mimi.
  4. Tidak memberi nama dengan nama-nama yang diharamkan.
  5. Tidak memberi nama anak dengan nama-nama yang dibenci.
  6. Memberi nama dengan nama-nama yang disunnahkan dan diperbolehkan.
Disunnahkan memberi nama dengan dua nama berikut, yakni ‘Abdullah (hamba Allah) dan ‘Abdurrahman (hamba Dzat Yang Maha Pengasih). Kedua nama tersebut merupakan nama yang paling disukai oleh Allah.

Disunnahkan memberi nama yang mengandung penghambaan terhadap nama-nama Allah yang baik (asma’ul husna) mana saja, seperti ‘Abdul ‘Aziz (hamba Dzat Yang Maha Mulia), ‘Abdul Malik (hamba Dzat Yang Maha Menguasai).

Memberikan nama dengan nama-nama nabi dan rasul Allah, karena merekalah penghulu Bani Adam, akhlak mereka adalah yang terbaik dan amal mereka adalah amal yang paling bersih. Menamai dengan nama-nama mereka, maka akan senantiasa mengingatnya terhadap mereka, sifat-sifat serta karakteristik mereka.

Menamai anak dengan nama-nama orang yang shalih dari kaum muslimin seperti nama para sahabat dan para ulama seperti: Anas, 'Aisyah, Fathimah, Jabir, dan Urwah.

Mengapa Anak Susah Makan

Mengapa Anak Susah Makan

Anak sulit makan memang seringkali ditemui oleh para orang tua dalam kehidupan anak-anaknya. Apalagi bila anak masih dalam usia Balita (bawah lima tahun). Masalah sulit makan anak memang tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Karena hal ini akan bisa berdampak kurang baik dan kurang menyehatkan bagi anak-anak kita tentunya. Penyebab anak susah makan memang bisa bermacam-macam sebabnya.

Karena sebagian besar anak-anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dan sebagainya. Apalagi jika masih dalam tahap pengenalan makanan baru. Karena selain ada anak yang susah makan, anak yang gemar makan sampai timbul obesitas pada anak juga terkadang kita jumpai dalam masyarakat kita ini.

Bagi sebagian keluarga yang masih memiliki anak-anak yang masih dalam usia pra sekolah ataupun sekolah dasar tentunya ada yang menemui bahwasannya anak-anaknya susah makan. Ada beberapa penyebab anak mengalami susah / sulit untuk makan. Mengapa anak susah sulit makan ? Lalu bagaimana cara tips mengatasi anak susah makan ?

Penyebab Anak Susah Sulit Makan

Berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan anak menjadi susah makan pada umur-umur di bawah lima tahun :

1. Anak Bosan Dengan Menu Masakan.
Pada jaman sekarang sepertinya anak-anak semakin pintar dalam hal memilih makanan yang disukainya. Berbeda dengan kita bila pada waktu kecil, makan tidak banyak macamnya dan kita juga terbiasa memakannya. Bila sekarang banyak anak yang cepat merasa bosan dengan menu makanan yang disajikan oleh ibunya. Sehingga hal ini seyogyanya akan mendorong para ibu untuk lebih kreatif dalam membikin menu makanan sehingga tidak menimbulkan datangnya rasa bosan anak terhadap menu makanannya.

2. Anak Banyak camilan Manis.
Makanan yang banyak mengandung kalori ini biasanya makanan yang manis-manis seperti : permen, minuman ringan, cokelat, snack ber-MSG. Akibat rasa manis dan kandungan yang banyak kalori tersebut maka sang anak merasa sudah kenyang sehingga pada saat makan, maka porsinya makannya pun tak akan banyak.

3. Pengaruh Kebiasaan Orang Tua.
Seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan keluarga yang malas makan karena diet, akan berpotensial mengembangkan perilaku malas makan juga kepada anaknya. Perilaku makan yang kurang tepat lainnya yaitu adanya kebiasaan orang tua membelikan jajanan tinggi kalori (permen, minuman ringan, cokelat) untuk menenangkan anak yang rewel. Hal ini bisa berakibat, anak merasa cepat kenyang dan pada akhirnya anak malas makan.

4. Minum Susu Banyak.
Dengan berubahnya jaman maka banyak pula keluarga menganggap susu sebagai makanan ataupun minuman istimewa yang bisa menggantikan makanan utama seperti halnya nasi, sayur, dan lauk pauknya. Orangtua yang berpandangan seperti ini, umumnya akan tidak sabar dalam menghadapi proses makan anak batita yang cenderung lama dan biasanya diselingi dengan bermain. Sebagai gantinya, anak akan diberikan susu yang tentunya memiliki proses lebih cepat karena hanya diminum dan dalam bentuk cairan.

Padahal setelah anak berusia satu tahun, kehadiran susu formula khususnya dalam menu sehari-hari tidaklah wajib. Susu dalam hal ini hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja, sementara kalsium dan fosfor dapat ditemukan dengan mudah pada jenis ikan-ikanan, sayuran, dan buah-buahan yang tentunya lebih mudah dicerna.

Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya

Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya

Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang hidup mendampingi beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la.1

Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?

Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la…Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:

“Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan tubuhnya.” Asma’ berkata : ‘”Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: “Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan. ”2

Syaikh Albani rahimahullah berkata : Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”3

Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu’ anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.

Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka.

Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian celana ketat yang menambah jelas lekukan tubuh mereka.

Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar.

Bukankah apa yang mereka pakai itu semua justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”4

Di dalam hadits lain terdapat tambahan :

“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.”5

Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:

“Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.”6

Dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata :
“Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi ‘Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu ‘Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!” Kemudian ‘Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya.7

Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”8

Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah.

Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan berusaha untuk menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh.

Sebagaimana firmanNya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu
(Al-Baqarah :208).

Wallahu’alam bish-shawwab.

Artikel ini telah di cek oleh : Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.

Sumber Rujukan :

1. Jilbab Wanita Muslimah menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani,Pustaka Tibyan,Solo.
2. Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-mundziri, Pustaka Amani, Jakarta.
3. Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Mahmud al-Istanbuli, Pustaka Tibyan, Solo.

Catatan kaki:

1. Hadits yang di riwayatkan Bukhari V/137 dan Muslim no.2450 yang berbunyi :“Wahai Fatimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita disurga?….”[Lihat Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal :127-128] [↩]
2. dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah 2/43, Al Bayhaqi 3/34-35 untuk lebih jelasnya bisa di lihat dalam Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin AlBani, hal 140-141 [↩]
3. Jilbab Wanita muslimah hal: 140 [↩]
4. dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam “Al-Mu’jam As-Shaghir” hal. 232 dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih lihat jilbab wanita muslimah hal :130 [↩]
5. HR.Muslim dari riwayat Abu Hurairah hadits no.1388 [↩]
6. dikutip oleh As-Suyuthi dalam “Tanwirul Hawalik” 3/103 lihat Jilbab Wanita Muslimah hal:131 [↩]
7. Ibnu Sa’ad 8/47 lihat Jilbab Wanita Muslimah hal 131 [↩]
8. idem hal 131 [↩]


Artikel : jilbab.or.id

Tips Hilangkan Cemburu

Tips Hilangkan Cemburu

Cemburu menurut Mariagrazia Marini diartikan sebagai sebuah perasaan yang mempunyai karakter naluriah serta alami, dan ditandai dengan adanya rasa takut, nyata atau tidak nyata, malu kehilangan cinta dari sang kekasih atau pasangan. Kecemburuan ini terkait dengan kurangnya kepercayaan pada orang lain dan atau dirinya sendiri dan, bila cemburu berlebihan, dapat menjadi patologis dan berubah menjadi obsesi. demikian adalah salah satu dari pengertian cemburu.

Cemburu dalam pandangan Islam adalah cemburu yang berlandaskan karena Allah. Istri Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam Aisyah juga pernah mengalami rasa cemburu dan terbakar cemburu kepada istri beliau yang lain, tetapi setelah diingatkan istri Rasulullah shallallahu a'alahi wa sallam segera menyadari kesalahan dan meminta maaf.

Cara Hilangkan cemburu, cara atasi cemburu terhadap pasangan

Hal ini berdasarkan atas sebuah riwayat hadist yang berbunyi :"Dari ‘Aisyah: "Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasulullah sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya" ( Hadist Riwayat Bukhari ).

Cemburu alam hubungan suami istri tentunya wajar dan memang harus seperti itu adanya. Karena rasa cemburu itu adalah bagian dari tanda rasa kasih sayang kita terhadap pasangan kita, hanya saja yang tidak diperbolehkan adalah cemburu berlebihan.

Ada beberapa cara mengatasi cemburu terhadap suami istri atau terhadap pasangan kita. Diantara tips atasi cemburu adalah adalah dengan berprasangka baik terhadap pasangan kita. Janganlah cepat terbakar rasa cemburu yang berlebihan tanpa alasan. Kecuali kita melihat sendiri dengan mata sendiri atau pun kita mendengar dari orang yang kita percayai akan kejujurannya pula.

Saling mengkomunikasikan rasa cemburu kita terhadap suami atau istri dengan baik dan dalam suasana lingkungan yang kondusif. Karena bila waktu dan cara yang kita lakukan tidak tepat maka bukanlah penyelesaian masalah yang kita dapatkan malahan justru seringkali akan mengkeruhkan masalahnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang para suami mencari-cari kesalahan isteri bial sedang dalam kecemburuan yang membabi buta. Sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan dalam hadits: "Ada jenis cemburu yang Allah membencinya. Yaitu kecemburuan suami kepada isteri yang tidak disertai adanya indikasi kuat yang mendukungnya". (HR. al Bazzar dan ath-Thabrani ).

Apapun kondisi kita ketika dilanda cemburu tentunya kita harus menggunakan solusi yang Islami dan jalan yang baik serta bijak dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam kehidupan rumah tangga kita.

Menghormati Tetangga

Menghormati Tetangga

Menghormati Tetangga. Tetangga adalah warga masyarakat lingkungan kita hidup dan berhubungan sosial dan letak rumahnya adalah bersebelahan dengan kita, baik itu bersebelahan di kanan, di kiri, didepan, atau pun dibelakang rumah kita. Bila sesuatu terjadi dalam rumah kita pun tentunya yang paling mengetahui adalah tetangga kita dahulu. Dan berbuat baik kepada tetangga dan menghormati tetangga adalah sebuah kebaikan yang yang telah Allah Firmankan dalam salah satu ayatnya :

"Dan sembahlah Allah, dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri."(QS. An-Nisa’: 36 )

Cara Menghormati Tetangga, Cara berbuat Baik Pada Tetangga

Sesuatu yang tak dapat dihindari dalam hidup bermasyarakat dan juga bersosial karena kita adalah makhluk sosial adalah kehidupan bertetangga. Karena yang kita harapkan adalah hidup bermasyarakat dengan tenteram dan damai, tentunya kita juga harus hidup dengan tenteram dan damai bersama tetangga kita. Alangkah nyaman hidup bersama tetangga yang baik. Dan demikian pula bila kita mempunyai tetangga yang jelek maka kehidupan kita dalam bermasyarakat akan terasa sempit.

Rasulullah shallalalahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang :istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang : tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit." (HR. Ibnu Hibban no. 1232 )

Betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Jibril menekankan dalam wasiatnya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :"Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris." (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624).

Dalam hal menghormati tetangga dan berbuat baik ini maka hal-hal yang membuat tetangga kita tidak ridha atau merasa terganggu. Ada beberapa perbuatan yang bisa membuat tetangga kita terganggu misalnya dengan perbuatan, seperti membuang sampah di sekitar pintu rumah tetangga, menyempitkan jalan masuk ke rumahnya, mengetuk-ngetuk pintunya, dan perbuatan lainnya yang memadharatkan tetangga. Termasuk pula jika dia memiliki tanaman di sekitar tembok tetangganya yang pengairannya mengganggu tetangga. Ini pun termasuk gangguan terhadap tetangga, sehingga tak boleh dilakukan.

Yang paling penting marilah kita menjaga kebaikan lingkungan kita, termasuk dalam hal berbuat baik dan menghormati tetangga kepada para tetangga kita sebagaimana yang telah disunnahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Membahagiakan Istri

Membahagiakan Istri

Tips Cara Kiat Membuat Istri Bahagia adalah merupakan salah satu kewajiban seorang suami terhadap istri. Karena memang banyak kewajiban seorang suami terhadap istri dalam Islam yang kita anut.

Tujuan menikah dalam Islam sudah seharusnya adalah merupakan jalan cara untuk bisa mendapatkan keridhoan Allah Ta'ala dan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta juga mempunyai keturunan yang nantinya akan membangun meningkatkan syiar-syiar agama Islam.

Panduan cara membahagiakan isteri dalam sebuah keluarga sesuai petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW perlu untuk diketahui dan dipahami dengan baik oleh para suami. Jangan sampai nantinya setelah menikah bukanlah kebahagiaan yang diraih, malahan kekecewaan, permasalahan dalam keluarga yang tak kunjung selesai.

Tips Cara Kiat Membuat Istri Bahagia
Tips Cara Kiat Membuat Istri Bahagia

Cara Membina Keluarga Sakinah


Beberapa hal dan cara serta kiat dalam rangka membina keluarga yang bahagia dunia akherat serta membina menciptakan keluarga sakinaah mawaddah warahmah tentunya tidaklah semudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan pengorbanan baik dari pihak suami atau pun pihak isteri.

Karena penentu kebahagiaan sebuah kehidupan mahligai rumah tangga sakah satu syarat yang harus dipenuhi adalah kesediaan pasangan untuk berkorban bagi pasangannya selama tidak berada di dalam jalur kemaksiatan dan dosa tentunya.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa membuat seorang istri bahagia dalam sebuah kehidupan rumah tangga antaraa lain adalah sebagai berikut :

Saling bekerjasama dalam rangka beribadah kepada Allah.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sholat berjama’ah antara suami istri dan anak-anak serta juga selalu meningkatkan segala aktifitas kita sebagai suami istri dalam beribadah kepada kepada Allah Ta'ala, seperti halnya dalam bersedekah, berdzikir, dan sholat pada malam hari (qiyamul lail).

Memperlihatkan wajah yang menyenangkan dan murah senyum.
Dalam Islam pun kita diajarkan bila memasuki rumah hendaknya dengan mengucapkan salam dan hal ini bisa dilakukan para suami ketika pulang dari mencari nafkah dengan memberikan salam apalagi bila ditambah dengan wajah yang menyenangkan dan tersenyum manis penuh cinta kasih sayang seorang suami kepada istrinya.

Ketika mengajak berbicara maka menggunakan kalimat yang manis dan juga memikat.
Dengan menggunakan kalimat-kalimat penuh kasih sayang tersebut akan membuat pembicaraan berjalan akan berjalan dengan baik serta hangat dan sang istri pun merasa dihargai.

Membantu dalam pekerjaan rumah tangga.
Dengan suami membantu pekerjaan rumah tangga sang istri hal ini tidaklah membuat sosok suami di pandangan istri jadi menurun, justru dengan hal tersebut maka sang suami membantu sang istri akan memberikan kabahagiaan di hati istri.

Mengusahakan bermusyawarah dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga.
Walaupun keputusan sepenuhnya adalah di tangan suami. Karena memang suami adalah sebagai kepala keluarga dalam sebuah rumah tangga. Bermusyawarah akan lebih baik dalam menghadapi persoalan-persoalan rumah tangga.

Bermain dan bercanda dengan istri.
Dan hal ini tentunya dilakukan dalam batas kewajaran. Dengan bercanda yang wajar akan mencairkan kebekuan ataupun kejenuhan dalam berumah tangga.

Rasulullah bersabda : "Semua hal yang di dalamnya tidak menyebut nama Allah SWT, adalah suatu kesia-siaan, kecuali dalam empat hal : Seorang laki-laki yang sedang bermain dengan istrinya, melatih kuda, membidik di antara dua sasaran, serta mengajarkan berenang".

Memperbaiki penampilan suami di hadapan istri.
Allah Ta'ala itu Indah dan menyukai keindahan. Termasuk dalam penampilan sang suami di hadapan sang istrinya.

Memberikan perhatian.
Sebagai suami yang ingin membahagiakan istri maka para suami juga harus memberikan perhatian dan juga menunjukkan perasaan dengan penuh kasih sayang secara kepada istri. Dalam menjalani rutinitas dan kewajiban sebagai istri tentunya banyak perubahan baik itu fisik dan psikologis.

Nah di saat-saat itulah seorang istri biasanya membutuhkan perhatian yang lebih dari suami dan suami harus pandai dalam menilai akan hal ini.

Bersabar dan berlaku lemah lembut pada istri. Dalam keadaan suami marah karena sesuatu hal kepada sang istri maka suami harus bisa menjaga amarah serta berusaha bersabar dan bisa untuk mengendalikan diri dan menasehati istri dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Menjaga rahasia yang berkaitan dengan perkawinan.

Semoga dengan mengetahui akan berbagi macam cara membahagiakan istri maka akan terbentuklah sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, serta warahmah yang menjadi impian bagi setiap keluarga.

Pesan Seorang Ibu

Pesan Seorang Ibu

Pesan Ibu
Ada sebuah pesan yang telah ditemukan di antara pesan-pesan dari kaum wanita Arab, yaitu pesan Umamah binti Harits, yang biasa dijuluki dengan panggilan Ummu Iyas binti 'Auf.Pesan ibu kepada putrinya yang akan menikah.Pesan yang disampaikan antara lain :

"Wahai putriku, sesungguhnya engkau sekarang beranjak dari nuansa yang selama ini engkau hidup di dalamnya dan engkau tinggalkan kehidupan yang selama ini biasa engkau alami. Seandainya ada seorang wanita yang tidak memerlukan suami karena kedua orang tuanya berkecukupan dan keduanya sangat memerlukannya, maka engkau adalah seorang wanita yang tidak memerlukan suami.

pesan ibu,pesan ibu bijak,pesan ibu kepada anaknya yang akan menikah

Akan tetapi, sudah menjadi takdir bagi wanita untuk diciptakan bagi laki-laki, begitu juga sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk wanita.Oleh karena itu, kusampaikan beberapa pesan agar engkau bersama suami dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik :

1. Patuhlah kepada suami dengan menerima apa adanya dan mendengar kata-katanya dengan baik disertai ketaatan.

2. Senantiasalah engkau memperhatikan apa yang biasa dilihat matanya dan dicium oleh hidungnya.Untuk itu, jangan sampai pandangan matanya melihat hal yang buruk darimu dan jangan sampau hidungnya mencium darimu, kecuali bau yang harum.

3. Senantiasalah engkau memperhatikan waktu tidur dan waktu makannya, karena sesungguhnya ketegangan rasa lapar itu amat membakar dan kurang tidur itu dapat menimbulkan emosi kemarahan.

4. Jagalah hartanya dan peliharalah keluarga dan anak-anaknya.Adapun hal terpenting berkaitan dengan hartanya adalah mengaturnya dengan baik dan yang berkaitan dengan anak-anaknya adalah memelihara mereka dengan baik.

5. Janganlah engkau mendurhakai perintahnya dan jangan engkau membocorkan rahasianya, karena sesungguhnya jika engkau menentang perintahnya, berarti engkau akan membuat dadanya bergejolak, dan jika engkau membocorkan rahasianya, berarti engkau tidak akan luput dari penghianatannya.Selanjutnya, hati-hatilah jangan sampai engkau memperlihatkan sikap gembira di hadapannya, sedang dia dalam keadaan bersedih, dan jangan pula engkau memperlihatkan eksedihan di hadapannya, sedang dia dalam keadaan gembira."

Sumber : Menebar Kebaikan

Manfaat Dan Peran Ciuman Suami Istri

Manfaat Dan Peran Ciuman Suami Istri

Manfaat Hikmah Peran Ciuman Kasih Sayang Dalam Keluarga banyak orang yang menikah tanpa berbekal pengetahuan memadai tentang pernikahan.

Dia hanya tahu bahwa pernikahan adalah relasi yang sah secara syar'i antara laki-laki dengan perempuan, yang terbungkus dalam konsep yang berbeda-beda seiring perbedaan level sosial dan intelektual masing-masing orang.

Perseptif Islam tentang tujuan pernikahan dalam islam sebenarnya jauh lebih integral dan komprehensif daripada itu.Karena Allah menjadikan sebuah pernikahan adalah merupakan bagian dari sebagai penenang dan memberikan ketentraman bagi pasangan suami istri dalam sebuah keluarga.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :" Dan salah satu tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenang padanya. Dia juga menjadikan rasa kasih sayang di antara kamu. Sungguh, dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir ".
( QS. Ar-Rum : 21 ).

Manfaat Dan Peran Ciuman Suami Istri
Manfaat Dan Peran Ciuman Suami Istri

Salah satu cara kiat tips menciptakan suasana yang baik, romantis dalam kehidupan rumah tangga salah satunya adalah dengan memberikan ciuman kasih sayang antara suami istri. Manfaat ciuman bagi kesehatan baik itu bagi kesehatan emosional, psikis, dan fisik manusia juga telah banyak dibuktikan dengan penelitian.

Termasuk dalam hal ini adalah pelukan ciuman kasih sayang dari seorang ibu terhadap anak-anaknya dengan menciumi anaknya setelah lahir, lalu anak itu di ciumi oleh ayah dan saudara-saudaranya.

Ciuman kasih sayang memiliki efek positif bila dilakukan antara suami istri, seorang ayah kepada anaknya, seorang ibu kepada putra-putinya adalah laksana sihir dalam memberikan perasaan bahagia ke dalam perasaan anak-anak, membuat mereka merasakan cinta, kasih sayang, kehangatan, keamanan, dan kenyamanan.

Ciuman juga memberikan mereka rasa percaya diri pada anak-anak, dan mereka akan merasakan menyadari betapa sayangnya orang tua mereka terhadap diri mereka sebagai seorang anak. Hal ini juga bisa menjadikan dan membuat anak-anak merasa dicintai dan diinginkan.

Kebutuhan manusia akan ciuman terus berlanjut sepanjang hidupnya. Karib kerabat dan sahabat berciuman satu sama lain dalam berbagai kesempatan. Pasangan suami isteri pun saling berciuman sepanjang kehidupan rumah tangga mereka, sampai usia tua menghampiri diri mereka.

Ciuman suami istri tidak selalu bermotif seksual. Ia merupakan salah satu cara mengungkapkan perasaan dan isi hati. cara terbaik untuk menyatakan permintaan maaf. Ia juga cara yang efektif untuk menyatakan keterpesonaan, rasa terima kasih, dorongan moril, atau lainnya.

Salah satu perusahaan asuransi jiwa di Amerika mengadakan penelitian tentang efek ciuman terhadap kehidupan manusia. Hasil yang didapatnya sebagai berikut :

Ciuman di pagi hari memiliki efek terapis yang lebih ampuh daripada apel.Suami yang dicium isterinya pada pagi hari sebelum berangkat kerja lebih jarang tertimpa kecelakaan lalu lintas, karena dia lebih tenang dan lebih mengendalikan syarafnya.

Dia lebih mampu menanggung tekanan dan beban pekerjaan. Selain itu, pikirannya lebih rileks, tenang, santai, stabil, bahagia dan puas.

Dr.Coleman mengatakan : "Penelitian yang dilakukan terhadap ribuan orang menegaskan bahwa ciuman di pagi hari memicu sekresi tertentu dan proses kimiawi yang dapat membuat seseorang merasa nyaman dan tentram sehingga berpengaruh pada emosi-emosi batinnya."

Apabila suami istri mengetahui dan menyadari peran positif ini dalam memberi ketenangan dan kedamaian bagi keduanya, maka hendaklah mereka memberikan ciuman hangat pada pasangannya agar kedunya merasakan kasih sayang yang sesungguhnya. Betapa indahnya kehidupan jika disertai emosi dan perasaan yang timbal balik.

Cinta Abadi Dalam Berumah Tangga

Cinta Abadi Dalam Berumah Tangga

Cinta Abadi Dalam Berumah Tangga
Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.

Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mereka, yang kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
(QS Ali ‘Imran:14).

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ}

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…”
(QS At Taghaabun:14).

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala[1].


Sewaktu menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].

Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka“[3].

Cinta sejati yang abadi

Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[4].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[5].

Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[6].

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[7].

Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…“[8].

Dan barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[9].

Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}

“Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).

Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala“[10].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).

[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).

[3] HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

[4] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[5] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).

[6] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).

[7] Fathul Baari (3/355).

[8] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-Da-u wad dawaa’” (hal. 68).

[9] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[10] Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).

Untaian Wasiat Untuk Keluarga dan Anak-Anak

Untaian Wasiat Untuk Keluarga dan Anak-Anak

Untaian Wasiat Untuk Keluarga dan Anak-Anak

Wahai saudaraku muslim! Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَآأَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka{laki-laki}atas sebagian yang lain {wanita}dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa: 34)

Allah telah menjadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi para wanita dan ini sesuai dengan fitrah dan naluri manusia, agar alam ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Maka bagi laki-laki memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya dengan pendidikan yang baik dan benar yang akan menjamin kebahagian dunia dan akhirat. Dan pendidikan yang paling penting adalah mengajarkan mereka agama dan adab-adab Islam sebagai realisasi dalam meneladani Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan meniti kehidupan sesuai dengan ajarannya. Wahai para ayah ajarkan dan didiklah anak-anak kalian dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih.

Ajarkan juga pokok-pokok keimanan yang telah diterangkan oleh Al-Qur‘an dan biasakanlah mereka untuk berpegang teguh dengan rukun-rukun Islam.

Ajarkan kepada istri dan anak-anak kalian untuk mencintai Allah, tancap-kan keimanan, kecintaan, penghormat-an, dan pengagungan terhadap Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam di dalam hati mereka. Mereka wajib untuk menaati apa yang diperin-tahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, membenarkan setiap berita yang beliau sampaikan dan menjauhi apa yang dilarangnya dan tidak beribadah kepada Allah, melain-kan sesuai dengan apa yang dia syariatkan. Barang siapa yang berpaling dari petunjuknya, maka dia termasuk ahlul bid’ah.

Ajarkan mereka untuk mencintai sahabat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia sebagai imam yang telah mendapatkan petunjuk yang lurus. Terangkan kepada mereka bagaimana sahabat beribadah, berakhlak dengan akhlak yang mulia, berilmu yang luar biasa, bersungguh-sungguh dalam beragama. Dan terangkan juga tentang jihad dan perjuangan mereka di jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Hingga akhirnya melalui mereka Allah membuka hati dan telinga umat manusia, membuka negara-negara dan kerajaan-kerajaan, dan menghukum orang orang kafir dan munafik dengan kehinaan.


Dan terangkan juga tentang sejarah hidup mereka yang luar biasa, bagai-mana kebenaran Iman mereka dan sempurnanya mereka di dalam mengikuti Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , dalam beribadah, berjihad dan menginfaqkan harta yang amat banyak dalam rangka untuk mencari ridha Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Dan tanamkan kepada mereka bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang mau mengikuti Sahabat Rasullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan orang yang celaka adalah yang mencela, mendiskreditkan mereka serta menempuh jalan kehidu-pan selain jalan mereka.

Dan perintahkan kepada mereka untuk menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, perintahkan anak laki-laki supaya berjamaah di masjid bersama kaum muslimin, dan yang perempuan supaya berjamaah bersama ibu mereka di rumah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman : Artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepa-damu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.”
(Thaha: 132)

Dan juga pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan perempuan ketika mereka berumur sepuluh tahun, jauhkan mereka dari kawan yang jelek. Tumbuhkanlah mereka dengan ahklaq ahlu iman, seperti berbakti kepada orang tua, silaturahim, bergaul dengan baik terhadap saudara seagama, senang bersedekah, berbuat yang ma‘ruf dan kebaikan, menghormati tetangga dan tamu, dan mencegah dari perbuatan jelek serta menyakiti sesama manusia.

Dan ajarkan juga tentang keimanan kepada qadla dan qadar, ajarkan agar selalu menghadapi takdir dengan menyerahkannya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala sebagai Rabb yang mengatur seluruh alam. Karena sesungguhnya Allah yang memberi dan Allah yang memgambil, segala sesuatu datang dari sisi-Nya sesuai dengan waktu yang ditentukan-Nya. Orang yang berbahagia adalah orang yang beriman kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya serta berusaha keras mencari jalan-jalan (wasilah) yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Orang yang celaka adalah orang yang menuyelisihi-Nya, bermaksiat terhadap perintah-Nya, menentang-Nya, kufur terhadap-Nya, benci terha-dap ketentuan-Nya dan berpaling dari takdir-Nya.

Jauhilah perkara-perkara yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah Subhannahu wa Ta’ala yang mengakibatkan dimasuk-kan ke dalam api neraka bersama orang-orang kafir Allah Ta‘ala berfirman,

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu menger-jakan apa yang diperintahkan.”
(At-Tahrim: 6)

Jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka, dengan membuka pintu-pintu kebaikan kepada anak dan istri kalian dan selalu mengarahkan mereka kepada kebaikan-kebaikan tersebut, selalu memberi dorongan kepada mereka untuk melaksanakannya, dan hendaknya kalian menjadi teladan bagi seluruh anggota keluarga.

Jangan sekali-kali meremehkan pendidikan terhadap keluarga kalian, dan jangan menganggap ringan dalam mengarahkan dan menunjuki mereka didalam kebaikan, karena kalian bertanggung jawab atas mereka.

Bersabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ,“Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin amanah yang diembankan kepadanya; apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya, sampai seseorang ditanyai tentang keluarganya”
(HR. An-Nasai)

Dan bersemangatlah dalam mendidik mereka di dalam kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan kita seperti orang-orang yang Allah firmankan,

Artinya, “Yaitu surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan) “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesuda-han itu.”
(Ar-Ra’d : 23-24)

Dan bersungguh-sungguhlah dalam mengajarkan mereka tentang Kitabullah dan as-Sunnah serta atsar-atsar (perikehidupan) salafusholih, maka Allah akan memberikan kemuliaan kepada kalian lebih dari yang kalian harapkan, dan akan mengamankan kalian dari mara bahaya apa pun, akhirnya Allah akan mengumpulkan kalian bersama anak dan istri kalian disurga-surga dan akan duduk ditempat orang-orang yang terhormat.

Allah berfirman : Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(At-Thur : 21)

Sesungguhnya seorang ayah apabila memberikan perhatian serius di dalam mendidik anak dan istrinya serta orang-orang yang menjadi tanggung jawab-nya, maka ia ibarat seseorang yang menebarkan di atas bumi yang subur benih-benih yang paling bermanfaat dan paling baik, yang kelak dengannya akan mendatangkan buah yang melim-pah dan hasil (panen) yang baik.

Tetapi apabila meremehkan pendidikan keluarga dan merasa cukup dengan sekedar memberikan makan, minum, pakaian dan lainnya, kemudian ia tinggalkan begitu saja seperti bina-tang ternak, tidak mengetahui yang halal dan yang haram, dan tidak menunaikan kewajiban dan tanggung jawab, dan tidak ada rasa penghormatan kepada yang tua dan tidak ada belas kasihan terhadap yang muda, maka yang seperti itu justru akan menjadi azab bagi diri mereka, keluarga dan masyarakat seluruhnya.

Padahal setiap muslim akan ditanya di hadapan Allah Subhannahu wa Ta’ala tentang beban tanggung jawab yang dipikulnya. Apakah ia tunaikan dan pelihara atau malah justru melalaikan dan menyia-nyiakannya.

Sesungguhnya anak-anak kita, belahan hati kita adalah pemuda-pemuda di hari ini dan merupakan generasi penerus untuk masa depan, jangan kalian melupakan doa untuk mereka, supaya mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Subhannahu wa Ta’ala agar menempuh jalan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.

Artinya, “Ya Rabb kami, anugerah-kanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Sumber : Buletin, “al-Washiah bil Ahl wal Aulad.” (Azhar Khalid Saif, Lc.)

Demikian tadi kawan artikel mengenai Untaian Wasiat Untuk Keluarga dan Anak-Anak dan semoga artikel mengenai Untaian Wasiat Untuk Keluarga dan Anak-Anak ini dapat bermanfaat kawan.

Tips Agar Buah Hati Mendengarkan

Tips Agar Buah Hati Mendengarkan

Tips Agar Anak Hormat Patuh.Sebagai orang tua kita terkadang sering dibuat jengkel oleh buah hati kita karena mereka tidak mau mendengarkan parkataan kita sebagai orang tuanya kepada mereka.Meski begitu kita sebagai orang tua pun tidak perlu marah atau pun kesal berlebihan sampai-sampai kita menggunakan kekerasan agar buah hati kita mau mendengarkan kita.Jangan sampai yah wahai Ummu--abu--; wahai Ayah--wahai Bunda--.

Sebagian besar buah kita tidak mau mendengarkan kita karena beberapa sebab, bisa berupa keinginan buah kita untuk mendapatkan perhatian lebih.Tentu saja hal ini pun tidak boleh juga dibiarkan berlarut-larut.Karena mendidik buah hati agar bisa mendengarkan dengan baik atau jadi pendengar yang baik akan membantunya belajar lebih efektif, bersosialisasi dengan baik, dapat mengetahui adanya sinyal bahaya, dan juga bisa membuatnya bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.

Cara Tips Anak Hormat Patuh Pada Orang Tua

Berikut adalah beberapa tips agar anak mendengarkan orang tua, yaitu:

1. Dekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak, misalnya berjongkok atau agak merunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.

2. Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya “Sudah waktunya untuk masuk ke mobil,” akan berdampak lebih besar dibandingkan, “Ayo naik ke kursi mobil, sayang?”.

3. Jangan bosan untuk mengulang
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.

Kehidupan Rumah Tangga Mengalami Bosan Serta Futur

Kehidupan Rumah Tangga Mengalami Bosan Serta Futur

Kehidupan Rumah Tangga Mengalami Bosan Serta Futur
Melanjutkan postingan kemarin mengenai Sumber Ketenteraman Suami-Istri sore hari ini akan berbagi mengenai Kehidupan Rumah Tangga Mengalami Bosan Serta Futur.Semoga bermanfaat.

Allah SWT telah mensyari’atkan pernikahan. Dan menjadikan sebagian dari tujuannya adalah pemenuhan berbagai keperluan jiwa, fisik, sosial dan ruhani. Pernikahan adalah sumber penumbuhan kesehatan jiwa dan fisik dan benteng penjaga berbagai penyakit jiwa, penyimpangan perilaku dan akhlaq.

Sebuah kewajaran bila kehidupan berumah tangga telah melewati 5 tahun mengalami masa futur, dapat pula kurang dari itu atau lebih. Tidak mengapa pula terjadi masa-masa bosan yang bersifat temporer dan sepintas lalu. Yang penting jangan berkepanjangan, dan jangan sampai menghancurkan kehidupan berumah tangga.

Kehidupan Rumah Tangga Yang Islami

* Kebosanan Umum: yaitu kebosanan yang terjadi akibat rutinitas kehidupan sehari-hari
* Kebosanan Emosional: yaitu hilangnya rasa cinta kasih di antara suami istri.
* Kebosanan Seksual: Yaitu Menjalankan hubungan seksual seakan-akan merupakan sebuah kewajiban atau tidak ada pembaharuan di dalamnya.


GEJALA DAN BAHAYA

Ada banyak dampak, tanda dan gejala adanya future dalam kehidupan berumah tangga, di antaranya:

1. Pengaduan istri bahwa suaminya tidak perhatian dan berpaling darinya, sering keluar dan begadang di luar rumah, memperlakukannya secara kasar, kering, tanpa penghargaan. Suami juga mengadu bahwa istrinya mengabaikannya dan beralasan karena factor anak, banyak meminta anggaran belanja, tidak berhias di hadapannya, dan pengaduan-pengaduan lainnya.

2. Future dan rutinitas dalam berbagai hubungan suami istri, diantaranya: future dalam hubungan emosional dan seksualitas

3. Antara suami dan istri merasa ada jarak dan barier psikologis, padahal keduanya hidup satu atap

4. Membesar-besarkan berbagai kesalahan, buruk sangka, buruk dalam menafsirkan ucapan dan perbuatan

5. Sering terjadi perbedaan pendapat, dan suara meninggi untuk urusan sepele.

6. GTM (Gerakan Tutup Mulut) di antara suami istri, minim atau tidak ada dialog di antara keduanya sama sekali.

7. Penderitaan pihak wanita lebih banyak, sehingga kita mendapatinya bolak balik ke klinik jiwa yang jarang sekali dimasuki oleh lelaki. Hal ini karena lelaki mempunyai berbagai cara untuk berekspresi dan mencari hiburan. Berbeda dengan perempuan yang tenggelam dalam problem dan deritanya. Hal ini melahirkan berbagai rasa sakit, cemas, mengeluh sakit kepala, sakit perut, tidak ceria, tidak mampu lagi menikmati hal-hal yang biasanya dia nikmati.

8. Demi meringankan rasa bosan atau problem rumah tangga dan seksualitas, sebagian suami atau istri lari ke cara-cara yang menyimpang, semisal narkotika dengan segala bentuknya, atau menjalin hubungan haram, atau suntuk kepada pekerjaan secara berlebihan.

9. Sebagian suami mencari istri kedua, atau ketiga atau keempat. Sebagian lainnya bersabar dan menanggung deritanya. Sebagian istri bersabar dan mencoba mensiasati urusannya. Sebagian lainnya berusaha mencari kompensasi atas kegalauannya dengan membeli berbagai kebutuhan sekunder, atau menyibukkan diri
dengan anak, atau melakukan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tingkatannya.

10. Keluarga: suami istri dan anak-anak hidup dalam berbagai perasaan negatif.

11. Bisa berakibat terjadinya berbagai pengkhianatan suami istri

12. Bisa berakibat terjadinya perceraian


SEBAB

Sebagaimana futur berakibat pada munculnya gejala atau problem yang lebih besar, future juga terjadi akibat satu atau beberapa problem yang bertumpuk. Di antara sebab-sebab terjadinya future dalam kehidupan rumah tangga adalah:

1. Memasuki kehidupan berumah tangga dengan berbagai prediksi dan obsesi ideal (jauh dari fakta). Bisa jadi suami atau istri tidak merasakan idealismenya, lalu ia hidup dalam kenyataan yang bisa jadi membuatnya kecewa berat, lalu merasa future, lalu meyakini bahwa kehidupan rumah tangganya telah gagal, dan bahwasanya solusinya adalah mengakhiri kehidupan rumah tersebut dengan perceraian.

2. Pengulangan dan rutinitas harian yang membosankan.

3. Masing-masing pihak tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan level kehidupan rumah tangganya ke tingkat yang lebih baik, juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya.

4. Kecurigaan dan kecemburuan secara berlebih dari salah satu suami atau istri, dan hal ini menanamkan bibit futur dalam hubungan di antara keduanya.

5. Bisa jadi sebagian penyakit fisik atau jiwa berakibat munculnya futur dengan segala bentuknya, misalnya: depresi, cemas dan schizophrenia atau split personality.

6. Hilangnya cinta kasih diantara suami dan istri dalam tempo yang lama.


ANTISIPASI DAN SOLUSI

1. Penguatan hubungan dengan Allah SWT. Di antaranya, kebersamaan suami istri dalam berbagai aktivitas; seperti mengkhususkan waktu untuk melakukan wirid harian dalam menghafal Al-Qur’an, membaca istighfar, shalat sunah, bersedekah, umrah dan amal soleh lainnya.

2. Masing-masing pihak suami dan istri hendaklah merasa bertanggung jawab atas terjadinya futur di antara keduanya, karenanya, hendaklah masing-masing berperan dalam meng-’ilaj

3. Pihak istri perannya lebih besar dalam hal ini. Hendaklah ia memperbaharui dan mengembangkan cara memperlakukan suaminya, dalam melakukan sentuhan-sentuhan lembut dalam rumah, khususnya kamar tidur, masakan, penataan ruang dan perabot, menerapkan hobi-hobi baru, melakukan berbagai aktivitas keluarga di dalam rumah, refreshing keluarga, membuat berbagai kejutan, memberi hadiah secara periodik. Semua hal ini hendaklah suami juga melakukannya, sesuai dengan bidangnya.

4. Suami atau istri hendaklah mengambil inisiatif falam dialog dengan pihak lainnya, memunculkan tema untuk didialogkan. Hal ini membantu suami istri untuk melewati jurang yang muncul sebelum menganga lebar.

5. Hendaklah suami istri saling memahami, bagusnya semenjak awal pernikahan. Caranya, masing-masing berterus terang tentang apa yang disukai dan yang tidak disukai. Bersepakat bahwa masing-masing pihak akan berusaha memenuhi keperluan pihak lainnya, baik psikologis maupun fisik, seperti: menghargai, menghormati, saling menerima, khususnya saling menerima fisik, lalu menerjemahkan kesepakatan ini dalam bentuk perilaku dan ucapan … sepanjang kehidupan suami istri yang panjang, dengan seijin Allah.

6. Menghindari rutinitas dalam hubungan keluarga dan seks di antara suami istri

7. Hendaklah masing-masing suami dan istri mempelajari kemahiran berinteraksi dengan orang lain

8. Pengendalian diri saat emosi atau saat terjadi krisis

9. Kehidupan suami istri tidak lain adalah partnership dalam pemikiran, emosi dan fisik, dan semua kesertaan ini menjadikan kehidupan suami istri memiliki cita rasa yang khas yang menjauhkannya dari hantu kebosanan dan futur.

Demikian tadi sahabat artikel mengenai Kehidupan Rumah Tangga Mengalami Bosan Serta Futur.

Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Sumber : Dakwatuna.com

Sumber Ketenteraman Suami-Istri

Sumber Ketenteraman Suami-Istri

Sumber Ketenteraman Suami-Istri
Allah Ta'ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu”.
(QS. Al-Baqoroh [2]:187)


Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar.

Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya’ atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya’. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah swt. menurunkan ayat tersebut.

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.


Penutup Aib dan Perhiasan

Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup “aurat” (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan
(lihat QS.7:26).

Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
(QS. Ali Imran [3]:14)


Sumber Ketrentraman dan Kesenangan

Suami adalah sumber ketrentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketrentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.

Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(QS.Ar-Ruum [30]:21)


Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
(QS. Ali Imran[3]:14)

Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS.Al-Furqaan [25]:74)

Di dalam kedua ayat tersebut, Allah swt. berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”

Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.


10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan

1.Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.

2.Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.

3.Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.

4.Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya

5.Biasakan mengucapkan “4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong” kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.

6.Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.

7.Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.

8.Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti “Aku cinta/sayang kamu”, dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.

9.Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.

10.Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.

Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah swt. Untuk itu jadilah “Pengantin Baru” selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah swt. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa “biasa” dan tidak “luar biasa” terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.

Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu.

Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.

Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)?

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.

Abdullah al-Mustofa

Artikel Dari : www.dakwatuna.com

ummi...ibu...bunda

ummi...ibu...bunda

Bacalah dan resapi….
Ketika ibu mu sudah mulai tua…
dan bukanlah seperti yang dulu lagi..
maka, berusahalah mengerti dan bersabarlah sedikit terhadapnya..

Jika suatu saat pakaiannya kotor karena makanan,
Bunda lupa cara membersihkannya..
lupa cara memakai pakaian..
Ingatkah kamu bagaimana bunda dahulu mengajarimu berpakaian di waktu kecil…??

Ibu Bunda

Ketika ummi berkata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,
maka bersabarlah menengarkannya..
ingatkah kamu ketika kecil, ummi harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali diceritakan agar kamu bisa tertidur..??

Ketika ibu memerlukanmu untuk membantunya..
janganlah menolak apalagi memarahinya..
ingatkah kamu sewaktu kecil, ia harus bersusah payah agar bisa membantumu berhasil..??

Ketika ummi tak paham dengan suatu hal yang baru..
jangan kamu sekali kali menertawakannya..
pikirkanlah.. bagaimana dulu ummi sabar menjawab setiap pertanyaan “MENGAPA” darimu..

Jika ummi sudah tak dapat berjalan kuat..
ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahnya..
ingatkah kamu sewaktu kecil, ummi senantiasa memapah agar kamu bisa berjalan..??

Ketika ummi lupa akan apa yang sdang dibicarakan..
berilah ummi waktu dan kesempatan untuk mengingatnya..
karena sebenarnya bagi ummi,
apa yang dibicarakan tidaklah penting asalkan kamu disampingnya mendengarkannya, ummi sudah puas..

Ketika kamu memandang ummi mulai menua, janganlah bersedih…
mengertilah.. dukunglah ummi…
seperti ummi menghadapimu ketika kamu belajar melihat kehidupan ini..
ingatkah waktu itu ummi memberi petunjuk bagaimana cara menjalani kehidupan ini..??

Sekarang, temanilah ummi dalam menghabiskan sisa-sisa hidupnya..
berilah ummi ketulusan dan kesabaranmu,.
ummi akan memberikan senyuman terindah untukmu..
dalam senyum itu terdapat rasa bangga dan kebahagiaan cinta yang tak terhingga untukmu..yang tak akan lekang oleh waktu..
bahkan ketika ajal telah diambang pintu…

ucapkanlah.. walau hanya dalam hatimu..
“ummi , ananda sangat mencintaimu…”

Sumber : tamanberbagi.wordpress.com

Menjadi Sahabat Yang Menyenangkan Hati

Menjadi Sahabat Yang Menyenangkan Hati

Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan (ithmi'nân/ thuma’nînah) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Allah Swt., Zat Yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia.

Hampir setiap mukmin mempunyai harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakînah mawaddah warahmah.Namun, sebagian orang menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang tidak gampang.

Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya.

Menikahlah, Karena Itu Ibadah

Sesungguhnya menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya memerlukan perhitungan cermat dan persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan. Sebagai risalah yang syâmil (menyeluruh) dan kâmil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim.

Tujuannya adalah agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng. Hal ini bisa diraih jika pernikahan itu dibangun atas dasar pemahaman Islam yang benar.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah saw., melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga.

Dengan begitu, jaringan persaudaraan dan kekerabatan pun semakin luas. Ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Pada skala yang lebih luas, pernikahan islami yang sukses tentu akan menjadi pilar penopang dan pengokoh perjuangan dakwah Islam, sekaligus tempat bersemainya kader-kader perjuangan dakwah masa depan.

Inilah tujuan pernikahan yang seharusnya menjadi pijakan setiap Muslim saat akan menikah. Karena itu, siapa pun yang akan menikah hendaknya betul-betul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan pernikahan seperti yang telah digariskan Islam.

Setidaknya, setiap Muslim, laki-laki dan perempuan, harus memahami konsep-konsep pernikahan islami seperti: aturan Islam tentang posisi dan peran suami dan istri dalam keluarga, hak dan kewajiban suami-istri, serta kewajiban orangtua dan hak-hak anak; hukum seputar kehamilan, nasab, penyusuan, pengasuhan anak, serta pendidikan anak dalam Islam; ketentuan Islam tentang peran Muslimah sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga, juga perannya sebagai bagian dari umat Islam secara keseluruhan, serta bagaimana jika kewajiban-kewajiban itu berbenturan pada saat yang sama; hukum seputar nafkah, waris, talak (cerai), rujuk, gugat cerai, hubungan dengan orangtua dan mertua, dan sebagainya. Semua itu membutuhkan penguasaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh oleh pasangan yang akan menikah. Artinya, menikah itu harus didasarkan pada ilmu.

Jadilah Sahabat yang Menyenangkan

Pernikahan pada dasarnya merupakan akad antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumahtangga sebagai suami-istri sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sesungguhnya kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah kehidupan persahabatan. Suami adalah sahabat karib bagi istrinya, begitu pula sebaliknya.

Keduanya benar-benar seperti dua sahabat karib yang siap berbagi suka dan duka bersama dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka demi meraih tujuan yang diridhai Allah Swt. Istri bukanlah sekadar patner kerja bagi suami, apalagi bawahan atau pegawai yang bekerja pada suami. Istri adalah sahabat, belahan jiwa, dan tempat curahan hati suaminya.

Islam telah menjadikan istri sebagai tempat yang penuh ketenteraman bagi suaminya. Allah Swt. berfirman:
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (TQS. ar-Rum [30]: 21).

Maka dari itu, sudah selayaknya suami akan merasa tenteram dan damai jika ada di sisi istrinya, demikian pula sebaliknya. Suami akan selalu cenderung dan ingin berdekatan dengan istrinya. Di sisi istrinya, suami akan selalu mendapat semangat baru untuk terus menapaki jalan dakwah, demikian pula sebaliknya. Keduanya akan saling tertarik dan cenderung kepada pasangannya, bukan saling menjauh. Keduanya akan saling menasihati, bukan mencela; saling menguatkan, bukan melemahkan; saling membantu, bukan bersaing.

Keduanya pun selalu siap berproses bersama meningkatkan kualitas ketakwaannya demi meraih kemulian di sisi-Nya. Mereka berdua berharap, Allah Swt. berkenan mengumpulkan keduanya di surga kelak. Ini berarti, tabiat asli kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah ithmi'nân/tuma’ninah (ketenangan dan ketentraman). Walhasil, kehidupan pernikahan yang ideal adalah terjalinnya kehidupan persahabatan antara suami dan istri yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi keduanya.

Untuk menjamin teraihnya ketengan dan ketenteraman tersebut, Islam telah menetapkan serangkaian aturan tentang hak dan kewajiban suami-istri. Jika seluruh hak dan kewajiban itu dijalankan secara benar, terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah suatu keniscayaan.

Bersabar atas Kekurangan Pasangan

Kerap terjadi, kenyataan hidup tidak seindah harapan. Begitu pula dengan kehidupan rumahtangga, tidak selamanya berlangsung tenang. Adakalanya kehidupan suami-istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga. Penyebabnya sangat beragam; bisa karena kurangnya komunikasi antara suami-istri, suami kurang makruf terhadap istri, atau suami kurang perhatian kepada istri dan anak-anak; istri yang kurang pandai dan kurang kreatif menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga; karena adanya kesalahpahaman dengan mertua; atau suami yang 'kurang serius' atau 'kurang ulet' mencari nafkah. Penyebab lainnya adalah karena tingkat pemahaman agama yang tidak seimbang antara suami-istri; tidak jarang pula karena dipicu oleh suami atau istri yang selingkuh, dan lain-lain.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan adanya kemungkinan terusiknya ketenteraman dalam kehidupan rumahtangga. Sebab, secara alami, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti dihadapkan pada berbagai persoalan. Hanya saja, seorang Muslim yang kokoh imannya akan senantiasa yakin bahwa Islam pasti mampu memecahkan semua problem kehidupannya.

Oleh karena itu, dia akan senantiasa siap menghadapi problem tersebut, dengan menyempurnakan ikhtiar untuk mencari solusinya dari Islam, seiring dengan doa-doanya kepada Allah Swt. Sembari berharap, Allah memudahkan penyelesaian segala urusannya.

Keluarga yang sakinah mawaddah warahmah bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah. Yang dimaksud adalah keluarga yang dibangun atas landasan Islam, dengan suami-istri sama-sama menyadari bahwa mereka menikah adalah untuk ibadah dan untuk menjadi pilar yang mengokohkan perjuangan Islam. Mereka siap menghadapi masalah apapun yang menimpa rumahtangga mereka. Sebab, mereka tahu jalan keluar apa yang harus ditempuh dengan bimbingan Islam.

Islam telah mengajarkan bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat kepada Allah, tidak pula ma‘shûm (terpelihara dari berbuat maksiat) seperti halnya para nabi dan para rasul. Manusia adalah hamba Allah yang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan dan menjadi tempat berkumpulnya banyak kekurangan.

Pasangan kita (suami atau istri) pun demikian, memiliki banyak kekurangan. Karena itu, kadangkala apa yang dilakukan dan ditampakkan oleh pasangan kita tidak seperti gambaran ideal yang kita harapkan. Dalam kondisi demikian, maka sikap yang harus diambil adalah bersabar!

Sabar adalah salah satu penampakan akhlak yang mulia, yaitu wujud ketaatan hamba terhadap perintah dan larangan Allah Swt. Sabar adalah bagian hukum syariat yang diperintahkan oleh Islam.
(Lihat: QS al-Baqarah [2]: 153; QS az-Zumar [39]: 10).

Makna kesabaran yang dimaksudkan adalah kesabaran seorang Mukmin dalam rangka ketaatan kepada Allah; dalam menjalankan seluruh perintah-Nya; dalam upaya menjauhi seluruh larangan-Nya; serta dalam menghadapi ujian dan cobaan, termasuk pula saat kita dihadapkan pada 'kekurangan' pasangan (suami atau istri) kita.

Namun demikian, kesabaran dalam menghadapi 'kekurangan' pasangan kita harus dicermati dulu faktanya. Pertama: Jika kekurangan itu berkaitan dengan kemaksiatan yang mengindikasikan adanya pelalaian terhadap kewajiban atau justru melanggar larangan Allah Swt. Dalam hal ini, wujud kesabaran kita adalah dengan menasihatinya secara makruf serta mengingatkannya untuk tidak melalaikan kewajibannya dan agar segera meninggalkan larangan-Nya.

Contoh pada suami: suami tidak berlaku makruf kepada istrinya, tidak menghargai istrinya, bukannya memuji tetapi justru suka mencela, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya, enggan melaksanakan shalat fardhu, enggan menuntut ilmu, atau malas-malasan dalam berdakwah.

Contoh pada istri: istri tidak taat pada suami, melalaikan pengasuhan anaknya, melalaikan tugasnya sebagai manajer rumahtangga (rabb al-bayt), sibuk berkarier, atau mengabaikan upaya menuntut ilmu dan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Sabar dalam hal ini tidak cukup dengan berdiam diri saja atau nrimo dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, tetapi harus ada upaya maksimal menasihatinya dan mendakwahinya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, kita senantiasa mendoakan pasangan kita kepada Allah Swt.

Kedua: Jika kekurangan itu berkaitan dengan hal-hal yang mubah maka hendaknya dikomunikasikan secara makruf di antara suami-istri. Contoh: suami tidak terlalu romantis bahkan cenderung cuwek; miskin akan pujian terhadap istri, padahal sang istri mengharapkan itu; istri kurang pandai menata rumah, walaupun sudah berusaha maksimal tetapi tetap saja kurang estetikanya, sementara sang suami adalah orang yang apik dan rapi; istri kurang bisa memasak walaupun dia sudah berupaya maksimal menghasilkan yang terbaik; suami “cara bicaranya” kurang lembut dan cenderung bernada instruksi sehingga kerap menyinggung perasaan istri; istri tidak bisa berdandan untuk suami, model rambutnya kurang bagus, hasil cucian dan setrikaannya kurang rapi; dan sebagainya.

Dalam hal ini kita dituntut bersabar untuk mengkomunikasikannya, memberikan masukan, serta mencari jalan keluar bersama pasangan kita. Jika upaya sudah maksimal tetapi belum juga ada perubahan, maka terimalah itu dengan lapang dada seraya terus mendoakannya kepada Allah Swt.
(Lihat: QS an-Nisa' [4]: 19). Rasulullah saw. bersabda:

Janganlah seorang suami membenci istrinya. Jika dia tidak menyukai satu perangainya maka dia akan menyenangi perangainya yang lain.
(HR Muslim).

Inilah tuntunan Islam yang harus dipahami oleh setiap Mukmin yang ingin rumahtangganya diliputi dengan kebahagiaan, cinta kasih, ketenteraman, dan langgeng. Wallâhu a‘lam bi ash-shawab.

Penulis adalah Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia, Ibu Rumah Tangga)

Artikel :www.syabab.com